Balikpapan, 18 Oktober 2023. Kawal Borneo Community Foundation (KBCF) beri pelatihan pemasaran digital bagi perempuan dan generasi muda pengelola hutan. Kegiatan dilaksanakan di Balai Pertemuan Bunga Salak, Kecamatan Balikpapan Utara, Balikpapan. 28 Pelatihan tersebut didukung oleh The Asia Foundation (TAF Indonesia) dan Google dalam program Perhutanan Sosial bagi Perempuan dan Generasi Muda (PSPGM).
Salah satu wilayah kerja program tersebut berada di wilayah Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) Balikpapan. Terdapat 10 kelompok tani yang telah terbentuk dan berada di bawah Forum Hutan Kemasyarakatan Sungai Wain Balikpapan. Beberapa Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) juga telah dibentuk. Beragam produk telah dikembangkan oleh masyarakat. Mulai dari tanaman buah-buahan hingga sayuran seperti selai buah naga, asinan salak, merica dan lain sebagainya.
Pada proses pengembangan produk, kelompok tani menghadapi beberapa kendala salah satunya pemasaran. Menurut salah satu anggota kelompok tani, pemasaran yang dilakukan masih menggunakan cara tradisional yaitu dengan menjual hasil panen ke pengepul. Ada beberapa kelompok yang telah memanfaatkan media sosial. Namun, hasilnya masih jaun dari kata maksimal.
Menanggapi hal tersebut, KBCF beri pelatihan pemasaran berbasis media sosial dan marketplace. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan platform digital sebagai media pemasaran online kepada kelompok perempuan dan generasi muda pengelola hutan. Selain itu, kelompok juga diberi pengetahuan cara melihat peluang pasar melalui Google Trends. Tujuannya agar kelompok mampu memasarkan produk secara mandiri dengan memanfaatkan media sosial dan marketplace sehingga dapat meningkatkan pendapatan kelompok tani.

Pitriani, Ketua KUPS Sarinaga menyampaikan telah memanfaatkan Google Site dan Instagram untuk memasarkan produk. “Kami sudah punya Instagram dan Google Site untuk pemasaran produk selai dan sirup buah naga. Namun, hingga saat ini, hasilnya belum maksimal. Pembeli masih terbatas kepada rekan-tekan anggota kelompok,” imbuhnya. “Harapan kami, melalui pelatihan ini dapat menambah pengetahuan kami terkait pemasaran produk melalui media sosial dan marketplace,” tambahnya.
Narasumber mengawali sesi pelatihan dengan menerangkan secara singkat tentang pemasaran digital. “Pemasaran produk secara online sudah menjadi kebutuhan utama bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), hal ini tidak terkecuali KUPS. Salah satu faktor penjualan produk UMKM sangat tinggi karena mereka telah menggunakan media sosial dan marketplace,” terang Tsaqib, Koordinator Pengelolaan Pengetahuan KBCF.

Sebagai tahap awal praktik, narasumber mengajak kelompok untuk membuat akun Google dan Facebook. Selain bermanfaat untuk pemasaran produk, akun ini juga dapat difungsikan sebagai penyimpan data dan dokumen digital kegiatan kelompok tani. “Akun ini ke depannya dapat dimanfaatkan oleh kelompok tani sebagai media pemasaran produk. Selain itu, sebagai bentuk alternatif pencegahan rusak atau hilangnya dokumen cetak kelompok tani, sebaiknya dokumen dapat didigitalkan dan input di email,” tambah Tsaqib.
Pasca pelatihan, kini kelompok tani telah mempunyai akun media sosial dan Facebook marketplace. “Masing-masing kelompok tani telah mempunyai akun. Harapannya, akun marketplace dan Facebook yang telah dibuat dapat dimanfaatkan selain untuk kebutuhan pemasaran juga dapat digunakan untuk merekam kegiatan kelompok tani,” tutup Tsaqib.




