Tidak seperti akses Hutan Desa lainnya, Hutan Desa Modang cenderung mudah diakses jika dibandingkan dengan jalan menuju area kelola hutan masyarakat tersebut di desa lainnya. Hal tersebut diungkapkan oleh tim patroli hutan yang terdiri dari Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Modang dan Tim Kawal Borneo Community Foundation (KBCF) saat melakukan patroli Hutan Desa Oktober lalu.
Umumnya, hutan yang selama ini dikunjungi, baik di Kabupaten Paser maupun Kutai Barat, memerlukan waktu setengah hari berjalan kaki dari desa hingga tiba di perbatasan area Perhutanan Sosial (PS) tersebut. Berbeda untuk Desa Modang, Hutan Desa dapat diakses dengan baik walau kondisi yang terjal dan meliuk. Selain kondisi jalan yang cukup baik, terdapat satu unit pondok yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat melepas lelah setelah survei. Keberadaan rumah sederhana tersebut memudahkan mobilisasi tim patroli hutan untuk memindahkan barang yang dibutuhkan saat survei. Mereka juga terhindar dari buruknya cuaca yang tidak menentu. Hanya saja, letak sumber air jauh dari pondok karena posisi pondok berada di atas bukit.
Prayoga, ketua tim patroli mengungkapkan bahwa kemudahan akses menuju Hutan Desa dapat mempercepat mobilitas anggota LPHD dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) untuk mengelola hutan. “Sudah menjadi kebutuhan umum bagi Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) bahwa infrastruktur seperti jalan menuju hutan semestinya diperhatikan oleh pemerintah. Masyarakat sendiri telah berinisiatif merintis jalan demi kemudahan akses kelola hutan dan tentunya memperhatikan lingkungan agar tidak merusak ekosistem sekitar,” pungkasnya.
Hari pertama, tim patroli menuju titik pemasangan camera trap. Erawan, Ketua LPHD Modang dan anggota lainnya memimpin tim menunjukkan titik dimana satwa biasa terlihat. Mereka sendiri telah mengakses hutan dan menemukan beberapa jejak satwa mamalia seperti kijang dan rusa. Pengetahuan yang dimiliki oleh LPHD tersebut memudahkan proses pemasangan camera trap, sehingga proses ini tidak memakan waktu yang lama. Setelah memasang kamera jebak, tim kembali ke pondok untuk berdiskusi merancang rencana keesokan harinya.

Hasil diskusi, tim bersepakat untuk membuat plot untuk inventarisasi potensi, tegakan tanaman, vegetasi dan keanekaragaman hayati di dalam area plot tersebut. Hal ini akan dilakukan pada hari kedua dan ketiga. Keesokan harinya, saat membuat plot, hujan turun dengan lebat. Kondisi ini memaksa tim kembali ke pondok dan mendiskusikan ulang kegiatan dan mitigasi kondisi serupa.
Saat membuat plot, ditemukan beberapa jejak dan kubangan. Tim menduga jejak ini ditinggal oleh payau. Untuk memastikan hal tersebut, tim bergegas memasang kamera untuk mengetahui hasilnya saat patroli berikutnya. Tim memasang camera trap di lokasi dugaan tempat payau dan merak hutan bergerak. Selain satwa, ditemukan juga tanaman meranti dan pasak bumi. Proses ini berjalan dengan mudah karena masyarakat sangat mengenal area hutan tersebut. Beberapa anggota juga berkata bahwa tidak jarang ditemukan hewan endemik seperti burung elang dan enggang. Namun karena alat yang terbatas, mereka tidak dapat mendokumentasikan temuan mereka.
Sepatutnya patroli, tim berjalan menelusuri hutan dengan tujuan menemukan titik ancaman pembukaan lahan dan rawan bencana. Hasilnya ditemukan beberapa titik yang berpotensi kebakaran hutan. Ada juga titik lokasi dengan tingkat kelembaban tinggi. Tim mengambil titik koordinat tersebut dengan tujuan memudahkan anggota LPHD untuk menemukan lokasi apabila terdapat pembukaan lahan di lokasi tersebut. Hal ini merupakan upaya LPHD untuk memitigasi ancaman pembukaan lahan di area Hutan Desa. Selain itu, peningkatan kapasitas bagi LPHD dalam monitoring hutan dengan aplikasi juga membantu mereka untuk memantau kondisi Hutan Desa.




