Kampung Intu Lingau, Kecamatan Nyuatan, Kabupaten Kutai Barat, dihuni oleh 2.057 penduduk dengan luas wilayah 8.531 Ha Hutan Desa. Kampung ini memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah sekaligus indah. Program Perhutanan Sosial (PS) dengan skema Hutan Desa yang dijalankan di Kampung ini, menjadi jalan bagi kemudahan akses dalam pengelolaan sumber daya alam, baik di dalam maupun sekitar Hutan Desa.
Leget Junaedi selaku ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Kampung Intu Lingau, berkesempatan membagikan cerita pembelajaran, tantangan, serta kendala dalam mengelola PS. Hal tersebut diutarakan pada workshop dukungan PS bagi perempuan dan generasi muda yang dinisiasi oleh Kawal Borneo Community Foundation (KBCF), 16 Oktober 2023 di Hotel Loveta, Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat.
Leget turut menyinggung destinasi wisata yang potensial dikembangkan dari praktik kelola PS di Kampung Intu Lingau. “Kami berencana ingin mengembangkan jasa lingkungan. Kita memiliki situs budaya bersejarah berupa goa-goa dan pendakian gunung dengan pemandangan alam yang indah,” ungkapnya.
Leget menyampaikan, potensi wisata tersebut berbasis ekowisata dan edukasi situs sejarah. “Banyak lokasi menarik di Kutai Barat khususnya Kampung Intu Lingau yang bisa dijadikan ekowisata dan wisata sejarah. Kita juga punya air terjun dan sungai yang airnya tetap jernih walau musim hujan. Semua sarana ini berpotensi untuk dibuat arena susur sungai, arung jeram, spot memancing, sekaligus rumah wisata,” imbuhnya.
Kampung Intu Lingau sendiri dapat ditempuh dalam waktu lebih kurangnya satu jam perjalanan dari Ibukota Kabupaten Kutai Barat, Barong Tongkok. Dengan pembangunan infrastruktur yang terus berproses, akses menuju kampung ini diharapkan dapat memudahkan para wisatawan yang berencana akan berkunjung ke lokasi wisata yang akan dicanangkan nantinya.
Diperlukan dukungan dari pemerintah Kabupaten Kutai Barat dan juga parapihak terkait, dalam rangka menyukseskan rencana pengembangan wisata tersebut. Selain infrastruktur, LPHD Intu Lingau berharap adanya dukungan pendanaan modal untuk menjalankan program. Hal lain yang tidak kalah penting yakni upaya mendongkrak tingkat partisipasi kelompok pengelola PS agar lebih aktif dalam berkegiatan.
Menyoal terkait tantangan yang dihadapi, Leget lebih menyasar pada upaya edukasi kepada masyarakat. “Kami perhatikan, masyarakat setempat kurang memahami hal-hal yang diperbolehkan dan dilarang dalam kawasan hutan. Selain itu, perlu peningkatan kapasitas dalam merencanakan pengelolaan potensi Hutan Desa,” terangnya.
LPHD Intu Lingau menyebutkan, untuk melengkapi rencana paket wisata nantinya, Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) telah memiliki beberapa produk unggulan, “KUPS kami mempunyai produk lempok durian yang sudah ekspor hingga Swiss. Selain itu juga ada sereal berlix yang terbuat dari berarut atau ganyong, fungsinya juga sebagai makanan pencegah stunting, serta beberapa produk lainnya yang sedang dalam upaya pengembangan. Kami berharap ada kolaborasi parapihak, baik itu Pemkab Kubar, KPHP Damai, maupun KBCF,” tutup Leget.




