Isu pengembangan energi terbarukan tak lagi asing terdengar. Pengelolaan sumber daya alam ekstraktif berdampak masif pada perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Panas bumi juga meningkat setiap tahunnya. Belum lagi polusi udara yang dihasilkan dari berbagai pabrik dan jumlah kendaraan yang menggunakan bahan bakar bensin. Hal ini berdampak pada kerusakan lingkungan dan bagi kesehatan masyarakat itu sendiri.
Tempat Pengelolaan Akhir Sampah (TPAS) Manggar, Balikpapan, mencoba mengembangkan teknologi terbarukan dari sampah menjadi energi terbarukan berupa biogas yang dapat menjadi alternatif pengganti gas elpiji rumah tangga. Sejak 2019, TPAS Manggar bekerjasama dengan Pertamina Hulu Mahakam (PHM) telah memfasilitasi lebih dari 300 rumah yang berada di sekitar kawasan TPAS Manggar.
Suyono, warga yang tinggal di sekitar TPAS Manggar sekaligus penerima manfaat langsung program tersebut, mengaku bahwa dia sangat merasakan dampak positif dari pengembangan energi terbarukan ini. “Saya sangat merasakan dampak baik dari penggunaan biogas dari sampah dan limbah kayu ini, terutama untuk ekonomi rumah, hemat sekali. Sebelumnya, saya bisa menghabiskan Rp. 100.000 per bulan untuk penggunaan tabung gas elpiji 3 Kg. Namun sekarang, saya hanya perlu mengeluarkan uang Rp. 10.000 per bulan dan gas bisa digunakan selama 24 jam. Uang tersebut disetorkan ke kelompok dan dikumpulkan secara berkelompok untuk perawatan sarana pendukung,” terangnya.
“Di beberapa desa yang masuk dalam wilayah tertinggal, terdepan dan terluar memiliki peluang yang sama. Kelompok masyarakat yang tinggal di daerah tersebut dapat diarahkan untuk mengelola limbah sampah menjadi biogas dengan skala yang lebih kecil dan teknologi yang lebih sederhana. Artinya, semua tempat memiliki potensi dan peluang yang sama jika ingin mengembangkan energi sampah terbarukan ini,” tambahnya.
Pernyataan tersebut disampaikan pada kegiatan kunjungan lapangan “Jelajah Energi Kalimantan Timur X Akademi Transisi Energi” yang diselenggarakan Institute for Essential Services Reform (IESR) pada Rabu, 6 September 2023. Sebelumnya telah dilaksanakan workshop transisi energi yang dihadiri Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, Dinas Energi dan Sumber Daya Terbarukan (ESDM), akademisi, media dan beberapa mitra pembangunan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan para aktor lokal dalam transisi energi sekaligus mengkampanyekan program transisi energi terbarukan.
Kawal Borneo Community Foundation (KBCF) menjadi salah satu peserta yang diundang dalam kegiatan tersebut. Dalam konteks pendampingan desa, terdapat beberapa lokasi dampingan yang berpotensi untuk mengembangkan energi terbarukan. Contohnya di lokasi Hutan Lindung Sungai Wain. Kelompok Tani Tunas Harapan yang berada di bawah Forum Hutan Kemasyarakatan Sungai Wain telah menerima bantuan ternak sapi dari Dinas Kehutanan Kalimantan Timur melalui Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Balikpapan. Mereka juga menerima bantuan dari Dinas ESDM Kaltim pada tahun 2021 berupa pemasangan instalasi disgersi tempat pengendapan kotoran ternak menjadi biogas. Masyarakat mengaku pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas sangat bermanfaat bagi kebutuhan rumah tangga.
Pengelolaan kotoran ternak menjadi sumber energi bersih oleh kelompok tani di lokasi Perhutanan Sosial, menjadi bukti bahwa program energi terbarukan dapat dikolaborasikan. Kerjasama parapihak ini menjadi peluang besar untuk pengembangan energi terbarukan ala Perhutanan Sosial. Sehingga, desa yang memiliki area PS juga mendapatkan peluang yang sama untuk pengembangan energi tersebut.
Dalam kegiatan tersebut, juga dihadiri puluhan peserta dari pemerintah, media, CSOs dan akademisi. Peserta diajak untuk mengenali lokasi pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Kalimantan Timur. Di Balikpapan, peserta menyambangi Pertamina Hulu Mahakam, TPAS Manggar dan PLTU Co Firing. Ketiga lokasi ini telah mengembangkan energi terbarukan seperti penggunaan peralihan penggunaan batubara menjadi pembangkit listrik tenaga surya, biogas dari sampah dan energi terbarukan dari cangkang sawit.
Keesokan harinya, peserta kembali mendatangi dua lokasi yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu di Desa Mulawarman dan Desa Menamang Kanan. Di Desa Mulawarman, setidaknya lebih dari 10 rumah telah memanfaatkan kotoran ternak menjadi biogas sebagai alternatif pengganti gas elpiji. Adapun di Desa Menamang Kanan, pemerintah desa telah mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa).
Dalam pengelolaannya, tentu terdapat beberapa kendala, hambatan serta tantangan yang dihadapi oleh pelaku serta penerima manfaat dari program ini. Mulai dari bagaimana menyosialisasikan program, uji standar energi, pengadaan sarana hingga pengadaan sumberdaya menjadi energi alternatif. Harapannya, melalui kegiatan jelajah energi ini, terdapat kampanye masif yang seharusnya menjadi perhatian khusus pemerintah untuk membuat kebijakan yang responsif terhadap pengembangan energi terbarukan sehingga dapat menjawab tantangan Indonesia menuju net zero emisi hingga 2060.




