Pada 18-19 Desember 2023, Kawal Borneo Community Foundation (KBCF) menggandeng akademisi Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, mengadakan pelatihan kepenulisan riset. Pelatihan ini bertajuk “Peningkatan Kapasitas Internal KBCF: Pengelolaan Pengetahuan Melalui Kajian Lapangan”. Pelatihan tersebut digelar di Hotel Horison Samarinda.
Sebagai komunitas yang bergerak dalam pendampingan pengelolaan sumber daya alam, KBCF berupaya mendokumentasikan praktik baik yang diperoleh di tingkat tapak. Pendokumentasian pengetahuan diharapkan mampu dilakukan dengan metode ilmiah. Sayangnya, pemahaman terkait riset dan pengelolaan pengetahuan, masih minim dimiliki oleh staf KBCF. Hal itulah yang melatarbelakangi diadakannya peningkatan kapasitas tersebut.
Manajer program KBCF, Hendra Putra, dalam sambutannya menyebutkan, terdapat banyak informasi di tingkat tapak yang memiliki nilai manfaat lebih jika dikelola dengan baik. “Praktik baik dari proses pendampingan merupakan aset serta pengetahuan yang penting bagi kelompok Perhutanan Sosial maupun pihak lain, khususnya KBCF sebagai bagian dari pengelola program pendampingan,” ujarnya.
Kegiatan tersebut dilaksanakan selama dua hari dengan melibatkan dua akademisi Fahutan Unmul selaku narasumber. Pada hari pertama, Emi Purwanti, dosen Fahutan Unmul, memberikan informasi dasar terkait berbagai model pendekatan penelitian sosial. Peserta juga dijelaskan mengenai Rapid Rural Appraisal (RRA), Participatory Rural Appraisal (PRA), dan Participatory Action Research (PAR) dalam riset sosial. Selain itu, disusul dengan praktik menyusun latar belakang, kajian pustaka, serta metodologi penelitian berdasarkan kajian lapangan.

Ia memaparkan, setidaknya terdapat tiga pendekatan yang dapat dilakukan untuk riset sosial. “Pendekatan penelitian dapat dilakukan secara kuantitatif dengan strategi survei dan pengumpulan data langsung, kualitatif dengan studi teori dan mengumpulkan data sekunder, ataupun metode campuran kuantitatif dan kualitatif untuk memahami masalah penelitian dengan baik,” katanya.
Sebagai tambahan, Emi menjabarkan secara rinci perbedaan metode RRA, PRA, serta PAR. “RRA menghasilkan informasi sosial di suatu daerah dengan relevan, tepat waktu serta efektif. Sementara PRA dan PAR memperhatikan aspek partisipasi masyarakat lokal. Bedanya, PRA menekankan adanya perubahan sikap dan prilaku individu. Sementara PAR, tujuan utamanya yakni merumuskan hal strategis bersama masyarakat untuk mencapai perubahan sosial,” tambahnya.
Menutup hari pertama, seluruh peserta diberi pemahaman ihwal menulis bab pertama riset berupa latar belakang, rumusan masalah, tujuan serta manfaat penelitian. Setelah itu, disusul dengan praktik langsung menyusun bab pertama dari tema riset yang sudah ditentukan masing-masing peserta.
Memasuki hari kedua, pelatihan dipandu oleh Diah Rakhmah Sari. Akademisi Fahutan Unmul tersebut, mengajak peserta berdiskusi perihal teknik mengutip hasil penelitian dan parafrase kalimat. Selain itu, ia juga memaparkan tentang riset berbasis literature review. “Agar riset yang dihasilkan terhindar dari plagiarisme, penting untuk memahami teknik parafrase kalimat. Cara pertama dapat menggunakan sinonim kata. Cara lainnya dengan memahami teks dari sumber asli lalu menulis ulang gagasannya dengan kalimat baru.” jelas Diah.
Ia juga mengatakan, riset bertema sosial dapat dilakukan dari balik meja kantor, atau lebih dikenal sebagai litetarure review. “Literature review merupakan metodologi riset dengan mengumpulkan serta mengevaluasi riset terkait topik tertentu. Dalam prosesnya, peneliti harus memilah jurnal yang relevan dengan topik. Caranya dengan menetapkan beberapa kata kunci dan melakukan perbandingan antara satu jurnal dengan jurnal lainnya. Jurnal terpilih kemudian dikumpulkan dan dikaji, hingga dapat ditarik satu kesimpulan terhadap topik tertentu,” pungkasnya.
Dian Purnama, salah seorang peserta pelatihan menanggapi kegiatan selama dua hari tersebut. “Saya pribadi merasakan ada peningkatan pengetahuan terkait metode riset yang baik dan benar. Selain itu, yang terpenting adalah pengetahuan ini sangat berguna untuk memetakan dan meneliti masalah sosial di desa dampingan kami masing-masing. Tentunya dengan menggunakan metode ilmiah,” tandasnya.





