Olah Tumbuhan Lokal Menjadi Sampo Bernilai Jual

29 August 2024

Ahmad Tsaqib

Anger dan beruru merupakan tumbuhan lokal Kampung Juaq Asa yang sedang menjadi perbincangan warga setempat. Masyarakat menyebut kedua tumbuhan tersebut sebagai akar. Pasalnya, tumbuhan yang banyak ditemui di dalam dan sekitar Hutan Desa Juaq Asa tersebut memiliki khasiat yang tidak biasa. Secara turun-temurun, Masyarakat memanfaatkan kedua tumbuhan tersebut sebagai sampo. Warga lokal biasa memakainya seusai berkegiatan di ladang ataupun hutan.

Kawal Borneo Community Foundation (KBCF) saat mendata potensi Hutan Desa bersama masyarakat, menemukan peluang usaha dari pengembangan produk sampo herbal berbahan baku akar tersebut. Agar pengelolaan usaha menjadi tertata, dibentuklah kelompok usaha yang mayoritas diisi oleh perempuan, yakni KUPS HHBK Waweeq Beniung.

Rabu, 28 Agustus 2024, di sela rangkaian kegiatan pengembangan produk yang diinisiasi KBCF, masyarakat turut dilatih langsung cara pembuatan sampo. Mulai dari memanen tumbuhan, mengolah, membuat label, hingga memasarkan. “Ini kali pertama masyarakat coba mengolah sampo ini. Biasanya, akar ini hanya dipukul-pukul, lalu dicelupkan ke dalam air, dan diperas. Air perasan ini yang dijadikan sampo,” ujar Mochammad Hasan, pendamping KBCF.

Ali Akhmad, selaku narasumber dari KBCF memandu peserta pelatihan. “Komposisi bahan sederhana saja, hanya akar, air, dan bahan kimia untuk menstimulasi busa yakni texapon,” jelasnya. Ia melanjutkan, untuk perbandingan bahan antara lain satu kilogam akar, lalu ditambahkan lima liter air serta 20 mililiter texapon.

Proses pengolahan dimulai dengan merendam satu kilogram akar di dalam lima liter air selama enam jam. Proses ini dilakukan untuk memperoleh ekstrak akar secara maksimal. Penentuan lama perendaman berdasarkan pengamatan yang sebelumnya dilakukan oleh Ali Akhmad. “Dilakukan percobaan merendam akar dengan selang waktu satu hingga tujuh jam. Saat perendaman satu hingga lima jam ternyata belum optimal, tapi jika direndam selama tujuh jam, akar mulai menimbulkan aroma kurang sedap akibat terfermentasi. Jadi kami simpulkan, waktu optimal adalah merendam selama enam jam,” tutur Ali.

Proses selanjutnya, sebanyak 200 mililiter air rendaman diciduk untuk melarutkan 20 mililiter texapon. Setelah itu, dimasukkan lagi ke dalam air rendaman dan diaduk. Setelah muncul busa yang dirasa pas, akar lalu diperas. Air hasil perasan kemudian disaring lalu dimasukkan ke dalam wadah/botol yang sudah disiapkan.

Menurut pendamping KBCF, Mochammad Hasan, perlu banyak perbaikan dari sisi kemasan dan label. “Kita akan coba beberapa kemasan botol yang ukuran dan bentuknya lebih pas dan bisa memuat label serta komposisi produk,” katanya.

Ia juga menambahkan, saat ini sudah ada beberapa produk terjual. “Kita jual kepada masyarakat sekitar dulu. Saat ini kita fokuskan kepada kualitas produk terlebih dahulu, sebelum dipasarkan lebih luas,” tambah Hasan. Selain belajar mengolah sampo, peserta juga dilatih membuat rencana bisnis, akses modal serta membuat catatan penjualan dan pemasaran.

Pak Saleng, warga lokal yang berprofesi sebagai penyapu jalan di Kutai Barat menunjukkan antusiasmenya mengikuti pelatihan. Adapula Ibu Maria, Ibu rumah tangga yang kesehariannya berladang. Mereka mengaku tertarik untuk ikut mengembangkan produk lokal. “Ini sampo lokal yang sudah turun temurun, kami senang bila dikembangkan,” kata Maria.

Sebagai rencana tindak lanjut, anggota perempuan lainnya juga berharap agar kedepannya diadakan pelatihan untuk memberi aroma sampo. Mereka mengusulkan untuk mencoba menambahkan tanaman aromatik seperti sereh ataupun mawar.

Artikel Serupa