Kawal Borneo Community Foundation (KBCF) melalui program Himba Bestari, mengadakan pelatihan pemantauan hutan pada 23 hingga 27 Januari 2024. Selama kurun waktu tersebut, pelatihan digelar di dua kampung, yakni Kampung Intu Lingau dan Kampung Lakan Bilem, Kecamatan Nyuatan, Kabupaten Kutai Barat. Kegiatan ini bertajuk “Pelatihan Pemantauan Hutan Desa Partisipatif Berbasis Aplikasi Smartphone.”
Kegiatan ini diikuti belasan peserta dari masing-masing kampung. Diketahui, peserta merupakan gabungan dari anggota lembaga pengelola hutan desa (LPHD), pemerintah kampung, serta tim patroli yang secara khusus dibentuk oleh LPHD. Sementara itu, narasumber didatangkan dari pihak kesatuan pengelolaan hutan produksi (KPHP) Damai serta tim KBCF.
Selain memberikan peningkatan kapasitas bagi kelompok pengelola hutan sosial, pelatihan ini juga bertujuan memperkenalkan aplikasi Smart Patrol. Aplikasi ini nantinya dapat digunakan untuk pengumpulan data potensi areal perhutanan sosial (PS) yang menjadi landasan penyusunan rencana kerja perhutanan sosial. Peserta juga diharapkan memiliki keterampilan pemantauan perubahan tutupan lahan areal PS.
Mengawali rangkaian pelatihan, dilakukan Pre test yang berisi sejumlah pertanyaan yang wajib dijawab peserta untuk mengukur pengetahuan dasar mereka perihal materi yang akan disampaikan. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan KBCF, Saparuddin. “Metode yang akan kita gunakan pada pelatihan ini adalah simulasi, presentasi dan praktik lapangan. Kegiatan ini sangat penting untuk menunjang kerja-kerja tim patroli ke depannya,” katanya
.

Memasuki materi pertama, dipaparkan oleh Rudy dari pihak KPHP Damai. Ia menjelaskan terkait kebijakan pengamanan dan perlindungan hutan. Peserta diajak untuk berdiskusi secara interaktif, utamanya terkait ancaman tambang ilegal maupun pembalakan liar di lingkungan mereka. Menurutnya, ancaman tersebut cukup sulit diatasi jika tokoh-tokoh masyarakat setempat justru mendukung aktivitas ilegal tersebut. “Siapapun bisa terlibat menjaga hutan melalui masyarakat mitra polisi hutan (MMP). Kita perlu bersama menegakkan aturan, segala bentuk perusakan hutan harus ditindak,” seru Rudy.
Sesi selanjutnya diambil alih tim KBCF, Prayoga Adi. Ia membawakan materi terkait survei biodiversity dan participatory biodiversity assesment (PBA). Yoga mengajak peserta untuk belajar mengidentifikasi satwa endemik yang berada di masing-masing Hutan Desa dengan metodologi PBA. Materi berikutnya disampaikan alih oleh Andri dari tim KBCF terkait pembuatan plot vegetasi. Ia membagi peserta menjadi dua kelompok dan mensimulasikan praktik membuat plot di luar ruangan. Menutup hari pertama, Yoga kembali membawakan materi pengoperasian aplikasi Avenza dan GPS. Peserta antusias mengikuti pelatihan, meskipun beberapa orang mengaku baru pertama kali menggunakan aplikasi ini. Ketiga kegiatan tersebut bertujuan untuk mengukur dan mengidentifikasi jumlah vegetasi dan kekayaan keanekaragaman hayati yang terletak di lokasi Hutan Desa.
Pada hari kedua, setelah materi pengisian form dan SOP patroli hutan usai dibahas, peserta difokuskan kepada pengenalan dan penggunaan aplikasi SMART Patrol. “SMART Patrol merupakan alat navigasi berbasis Global Positioning System (GPS), sehingga dapat digunakan secara online/offline. Dalam penerapannya, SMART Patrol dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti pemetaan, pengambilan titik dan pengukuran lapangan,” terang Achmad Albar selaku pemateri. Pertemuan hari kedua ditutup dengan pembagian kelompok tim patroli untuk praktik di hari selanjutnya.
Hari terakhir diisi dengan praktik lapangan. Dua kelompok yang telah terbentuk belajar melakukan pengamatan dan survei plot vegetasi di dalam hutan. Seluruh praktik dilakukan dengan menggunakan aplikasi Smart Patrol.

Selama praktik, terdapat beberapa catatan yang menjadi evaluasi. Pertama, masih kurangnya pemahaman peserta dalam penggunaan aplikasi. Kedua, terdapat beberapa kesalahan dalam pembuatan plot vegetasi seperti tumpang tindih objek survei serta kurangnya pengetahuan peserta terhadap penamaan lokal dari objek vegetasi yang ditemui.
Pelatihan ditutup dengan ucapan terimakasih ketua LPHD Intu Lingau, Leget Junaedi. ”Terimakasih kepada tim KBCF, ilmu pengetahuan ini sangat bermanfaat bagi kami untuk turut menjaga kelestarian hutan yang menjadi fokus kami semua,” pungkasnya.
Sementara itu, Moja, salah seorang peserta dari Lakan Bilem juga turut menyampaikan apresiasi kepada tim KBCF, “terimakasih kepada seluruh narasumber yang memberikan materi pelatihan. Dengan ini, kami lebih memahami peran setiap anggota tim patroli dalam menjaga kawasan Hutan Desa di Kampung Lakan Bilem,” tutupnya.




