Pada 14 Desember 2023, Kawal Borneo Community Foundation (KBCF) menggelar pelatihan pemantauan hutan berbasis smartphone. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Pertemuan Umum Desa Karangan Hilir, Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutai Timur. 10 orang yang merupakan anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) berpartisipasi dalam pelatihan ini. Kegiatan yang merupakan bagian dari program Himba Bestari ini merupakan titik awal bagi LPHD untuk melakukan survei dan patroli hutan berbasis smartphone.
Di awal, Kepala Desa Karangan Hilir, Jabir, membuka acara sekaligus menyampaikan sambutan. Ia mengatakan adanya pelatihan tersebut diharapkan dapat membantu LPHD dalam melindungi dan menjaga hutan dari aktivitas ilegal. Ia juga berharap peningkatan kapasitas tersebut dapat memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat desa terutama untuk LPHD.

Kegiatan dilanjutkan pemaparan materi patroli hutan oleh KPHP Bengalon. Dari pemaparan tersebut, tim pemantau LPHD bertanya. “Apakah diizinkan membawa senjata untuk melindungi diri dari binatang buas saat di dalam hutan?”, tanya salah seorang anggota. “Dalam aturan, tidak diperbolehkan membawa senjata, kecuali bagi kelompok yang telah mendapatkan izin dari polisi hutan,” respons Muthalib, narasumber pelatihan pada pelatihan tersebut.
Kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan aplikasi. Pertama, kelompok dilatih menggunakan aplikasi Qfield. Sebagaimana aplikasi lainnya, aplikasi ini digunakan untuk mengambil titik koordinat dan data potensi di dalam kawasan hutan. Keunggulan aplikasi ini dapat terkoneksi dengan mudah ke aplikasi pengolahan peta seperti Q-GIS. Hal ini dapat memudahkan proses pengelolaan data yang telah diambil.
Hari kedua, kelompok diberi pengetahuan terkait cara identifikasi dengan metodologi participatory biodiversity assesment (PBA). Materi ini disampaikan oleh Andri Prabowo, staf pemetaan KBCF. “Penggunaan metodologi PBA membantu kelompok dalam mengidentifikasi satwa yang ada di dalam kawasan hutan,” imbuhnya di sela-sela materi. “Kami menunjukkan daftar satwa Kalimantan, kemudia kelompok dapat menyebutkan satwa atau bahkan jejak binatang yang pernah mereka temui di hutan,” ujarnya menjelaskan cara penggunaan metode tersebut.
Setelah pemaparan materi, peserta dibagi menjadi dua kelompok dan membuat jadwal pemantauan hutan. Agar mempermudah kelompok untuk mengidentifikasi tumbuhan dan jenis burung, tim KBCF juga menyampaikan penggunaan aplikasi plantNet dan BirdNet. Kedua aplikasi ini berfungsi untuk mengenali jenis tumbuhan dan burung sebagai bentuk informasi kekayaan alam di kawasan Hutan Desa Karangan Hilir.
Keesokan harinya, peserta mulai membagi diri menyesuaikan dengan tim yang telah dibentuk sebelumnya. Praktik dimulai pukul 8 pagi di samping rumah Ketua LPHD. Peserta menggunakan aplikasi yang telah dibekali oleh tim KBCF. Selain itu, fasilitator juga mengajak kelompok untuk membuat plot area yang dijadikan lokasi untuk menginventarisir lahan. Kegiatan berakhir pada jam 12 siang dan ditutup dengan evaluasi pelatihan.





