Karangan Ilir, April 2025 — Sebuah langkah kecil untuk menuju harapan dengan dampak besar terjadi di Desa Karangan Ilir, Kutai Timur, ketika kelompok perempuan yang tergabung dalam Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Usaha Bersama berhasil memproduksi permen cokelat rumahan. Produk yang mereka beri nama Macokka merupakan akronim dari Rumah Cokelat Karangan. Kini dapat menjadi titik terang bagi kebangkitan ekonomi lokal berbasis potensi desa.
Pelatihan pembuatan permen cokelat yang difasilitasi oleh Lembaga Pengelola Hutan Desa Karangan Ilir bersama Ali Akhmad dari Kawal Borneo Community Foundation (KBCF) pada Minggu, 20 April 2025, menjadi momen penting bagi kelompok ini. Diadakan secara sederhana di rumah Bu Sudarmi, salah satu anggota KUPS, pelatihan ini dihadiri oleh sembilan ibu rumah tangga, serta didampingi langsung oleh Ketua LPHD dan pendamping Karangan Ilir.
Sebelumnya, KUPS Usaha Bersama belum mengalami perkembangan yang signifikan. Rencana awal untuk membudidayakan jahe gagal karena lokasi tanam yang merupakan daerah rawan tergenang banjir. Situasi tersebut membuat kelompok kesulitan menentukan arah usaha. Inisiatif dari Ali Akhmad untuk beralih ke pengolahan kakao menjadi momentum baru yang langsung memantik antusiasme warga.
Tidak hanya diajarkan membuat permen cokelat secara praktis dan mudah, peserta juga didampingi dalam menyusun rencana usaha, memahami akses permodalan, hingga mengurus legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikat Pangan Industri Rumah Tangga (P-IRT) untuk produk yang dihasilkan. Produk Macokka pun dirancang akan segera dapat ditemukan di marketplace lokal dan Shopee.
Yang menarik, pelatihan ini bukan hanya kegiatan ekonomi, tetapi juga menjadi ruang sosial yang inklusif. Beberapa peserta membawa anak-anak mereka yang masih kecil, yang ikut menyaksikan dan belajar bersama secara informal. Kegiatan ini menjadi semacam ruang belajar keluarga, di mana keterlibatan perempuan tidak terbatas pada urusan rumah tangga saja, tetapi juga dalam membangun usaha dan masa depan ekonomi di desanya.
Semangat peserta tergambar jelas ketika mereka saling berdiskusi soal nama produk, bentuk, hingga kemungkinan menambah varian rasa dari produk permen cokelat tersebut. Ada rencana menambahkan bahan seperti tepung gandum atau menciptakan bentuk baru untuk memperkaya tampilan produk. Meski semua masih dalam tahap awal, gairah itu sudah terasa hidup kembali setelah sekian lama kelompok berjalan tanpa arah yang jelas.
Ali menekankan pentingnya mengintegrasikan bidang usaha dalam sektor Perhutanan Sosial dengan potensi bahan baku yang tersedia di desa. Kakao menjadi jawabannya. "Sekali dayung, beberapa hal tercapai. Seperti, pelatihan teknis, pemahaman permodalan, dan rencana usaha. Legalitasnya pun sedang disiapkan agar ke depan mereka lebih percaya diri," ujarnya.
Meskipun belum semua rencana berjalan mulus, sinyal dukungan sudah mulai berdatangan. Produk Macokka telah diperkenalkan ke kelompok pengajian dan kepala desa, yang memberi respon positif. Bahkan BUMDes disebut-sebut bersedia mendukung pemasaran produk ini.
Langkah selanjutnya adalah memastikan ketersediaan bahan baku kakao secara berkelanjutan agar produksi bisa konsisten. Sebab, antusiasme dan semangat yang telah tumbuh perlu segera diikuti dengan komitmen jangka panjang dan dukungan ekosistem usaha yang memadai.
Dari dapur sederhana di Karangan Ilir, permen cokelat Macokka lahir bukan hanya sebagai produk, tetapi sebagai simbol kebangkitan perempuan desa yang kreatif, berdaya, dan siap menjemput masa depan yang lebih manis.




