Tim patroli LPHD Intu Lingau menyusuri Sungai Siat untuk menuju kawasan hutan desa—bagian dari upaya menjaga wilayah kelola masyarakat.
Intu Lingau, Kalimantan Timur – Di tengah tantangan perubahan iklim dan tekanan terhadap kawasan hutan, masyarakat Intu Lingau menunjukkan bahwa mereka tak tinggal diam. Melalui Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), komunitas ini menggelar patroli hutan pada 5 sampai 9 Februari 2025. Patroli dilakukan bukan hanya untuk memantau kondisi hutan desa dan mencegah aktivitas ilegal, tetapi juga untuk membangun basis data biodiversitas dan memperkuat kapasitas masyarakat lokal, terutama generasi muda dan perempuan.
Karena areal hutan yang cukup luas, tim patroli dibagi menjadi dua tim. Masing-masing tim menyusuri empat petak, dengan luas tiap petak antara dua hingga lima hektare. Dengan begitu, total delapan petak dipantau dalam kegiatan patroli ini.
Salah satu hal yang menonjol dari patroli ini adalah kepemimpinan Alda Riany, perempuan muda yang dipercaya memimpin salah satu tim lapangan. Ia memberikan pengarahan teknis tentang penggunaan GPS, aplikasi pencatatan, dan dokumentasi sebelum tim terjun ke lapangan. Tim yang dipimpinnya menyusuri rute dari kantor LPHD menuju Jembatan Siat, lalu menelusuri Sungai Siat dengan perahu menuju hutan.
Dalam kondisi cuaca yang tak selalu bersahabat dan medan yang menantang, semangat para anggota tim tetap menyala. Meski hasil dokumentasi satwa liar belum maksimal, hal itu justru menjadi motivasi untuk meningkatkan kemampuan teknis mereka di patroli berikutnya.
Namun lebih dari itu, patroli ini memperlihatkan bagaimana pengelolaan hutan berbasis masyarakat kini berkembang ke arah yang lebih inklusif dan reflektif. Sosok Alda menjadi simbol transformasi tersebut. Di tengah budaya pengelolaan sumber daya alam yang selama ini cenderung maskulin dan teknokratik, hadirnya perempuan muda sebagai pemimpin lapangan menjadi penanda penting bahwa ruang-ruang konservasi kini mulai membuka diri bagi keberagaman peran.
Kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa desa bukan sekadar penerima manfaat program konservasi, tetapi aktor penting yang dapat memproduksi pengetahuan ekologis dari bawah. Dengan melakukan pencatatan keanekaragaman hayati secara langsung, masyarakat mulai menyadari bahwa hutan desa tidak hanya punya nilai protektif, tetapi juga nilai edukatif dan ekonomis ke depan mulai dari potensi ekowisata, basis riset, hingga peluang pendidikan lingkungan bagi generasi berikutnya.
Secara strategis, patroli ini menjadi bentuk deteksi dini terhadap aktivitas-aktivitas yang bisa merusak ekosistem, sekaligus menciptakan mekanisme pengawasan mandiri berbasis komunitas. Di sisi lain, keberlanjutan kegiatan semacam ini menuntut dukungan yang berkelanjutan pula, baik dari sisi logistik, pelatihan, maupun kebijakan. Kemandirian yang ditunjukkan LPHD Intu Lingau perlu dilihat sebagai modal sosial yang harus terus diperkuat.
“Kegiatan patroli ini benar-benar jadi pengalaman pertama yang berkesan buat saya. Terima kasih Alda dan seluruh tim atas bimbingannya. Saya belajar banyak, terutama tentang kerja sama dan ketelitian lapangan. Hal-hal yang sangat relevan juga dengan tugas saya di tim pencegah dan pengendali api. Semoga ke depannya saya bisa berkontribusi lebih baik lagi,” ujar Were, salah satu peserta patroli.
Pada akhirnya, kegiatan ini menjadi bukti bahwa konservasi bukan hanya soal menjaga pohon tetap tegak, tetapi juga tentang membangun relasi yang adil antara manusia, alam, dan pengetahuan. Dan dalam relasi itu, perempuan, anak muda, dan komunitas lokal punya peran aktif di dalamnya.




