Kutai Barat, 1 Mei 2025 — Sekitar 20 petani karet dari Kampung Lakan Bilem, Kabupaten Kutai Barat, menghadiri pertemuan yang dilaksanakan di ruang rapat Kantor Petinggi Kampung Lakan Bilem. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan konsultan Cognitia pada 2024, dan menjadi momen strategis untuk menyampaikan hasil observasi lapangan sekaligus mengukur komitmen masyarakat terhadap pertanian karet.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh para petani karet, petinggi kampung, serta fasilitator lapangan KBCF. Yang menarik, lebih dari separuh peserta merupakan perempuan — mayoritas di antaranya aktif sebagai penoreh karet. Temuan ini menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa perempuan di Lakan Bilem bukan hanya mendukung dari belakang, tetapi berperan langsung dan signifikan dalam produksi karet sehari-hari.
“Di Lakan Bilem itu ibu-ibu yang justru lebih jago menoreh. Makanya yang datang kebanyakan memang perempuan. Respon mereka juga sangat positif,” ujar Oniel, selaku fasilitator lapangan yang terlibat dalam kegiatan ini.
Kehadiran didominasi perempuan yang memperlihatkan bukan hanya ketangguhan, tetapi juga dedikasi mereka terhadap sektor pertanian karet yang saat ini menghadapi tantangan, termasuk potensi alih fungsi lahan menjadi kebun sawit. Isu ini menjadi latar penting dari diskusi yang berkembang dalam pertemuan tersebut — apakah masyarakat masih memiliki komitmen untuk mempertahankan karet sebagai komoditas utama.
Hasil pertemuan menunjukkan bahwa minat masyarakat, khususnya para perempuan, terhadap pertanian karet masih tinggi. Banyak yang menilai pohon karet di kampung mereka belum dimanfaatkan secara maksimal. Oleh sebab itu, mereka menyambut baik peluang pengembangan lebih lanjut. Usulan mengenai fasilitasi pelatihan atau dukungan teknis pun muncul dari peserta sebagai bagian dari harapan akan peningkatan kualitas dan produktivitas.

“Setelah kegiatan selesai, beberapa peserta menyampaikan komitmen mereka untuk terus bertani karet. Tentu hal ini merupakan sinyal positif”, tambah Oniel.
Dalam konteks keberlanjutan dan keadilan sosial, fakta bahwa perempuan menjadi aktor utama dalam mempertahankan pertanian karet memiliki makna penting. Ini tidak hanya soal ekonomi rumah tangga, tetapi juga tentang kedaulatan pangan dan perlindungan terhadap ruang hidup mereka.
Kegiatan ini sekaligus membuka ruang bagi para pemangku kepentingan untuk memperkuat dukungan terhadap petani karet, khususnya kelompok perempuan yang selama ini bekerja dalam senyap namun ternyata lebih memiliki kemampuan dalam mengelola karet. Ke depan, inisiatif seperti pelatihan teknis dan penguatan kelembagaan petani, harus menjadi prioritas untuk menjawab komitmen yang telah ditunjukkan oleh warga Lakan Bilem.




