World Resources Institute (WRI) Indonesia bersama Kawal Borneo Community Foundation (KBCF) menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Teknik Pemetaan dan Pemantauan Hutan. Kegiatan ini dilaksanakan pada 3 Maret 2023 di Hotel Aston Samarinda selama tiga hari. Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka mendukung Civil Society Organization (CSOs) Kalimantan Timur yang berdayaguna untuk melindungi dan menjaga sumber daya hutan.
Kegiatan dibuka oleh Direktur KBCF, Mukti Ali. Dalam sambutannya, ia menyambut baik komitmen mitra CSO Kaltim untuk meningkatkan kapasitas terutama dalam bidang pemetaan dan pemantauan hutan secara daring. Kegiatan ini bisa membantu inisiatif teman- teman tidak hanya terkait dengan kegiatan perhutanan sosial, namun juga adanya inisiatif- inisiatif comunitty based forest management yang bermanfaat untuk pengelolaan lahan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Selain itu, kegiatan bertujuan untuk memahami pentingnya peranan CSOs lokal dalam proses pemantauan hutan dan penegakan hukum dalam pengelolaan hutan. Hal ini ditunjukkan dengan memberikan dukungan berupa pelatihan peningkatan kapasitas teknis dan kemampuan anggota CSOs kehutanan dalam melakukan pemetaan dengan alat Geographic Information System (GIS) demi mendukung kegiatan pemantauan, advokasi, hingga mendukung pembuatan kebijakan terkait pengelolaaan hutan.
Peserta kegiatan dihadiri oleh perwakilan dari 13 CSOs yang berjumlah 30 orang. Dalam kesempatan ini, ada dua narasumber dari WRI Indonesia yaitu Mirzha Hanifa dan Gemasakti Adzan. Materi yang disampaikan dilakukan sebanyak dua tahap. Tahap pertama mendiskusikan konsep pemantauan hutan dan advokasi lingkungan menggunakan data-data GIS. Achmad Albar, Manajer Data dan Pemetaan KBCF, menyampaikan terkait hasil survei Global Land Analysis and Discovery GLAD di Kampung Juaq Asa, Kutai Barat, sebagai salah satu contoh pemantauan tutupan lahan di kawasan hutan adat di Kaltim. “Ada beberapa yang teridentifikasi areal pembukaan lahan, namun akses yang dilalui cukup sulit untuk kelapangan. Maka dari itu, hasil deteksi awal ini sangat membantu untuk identifikasi awal sebelum ke lapangan,” jelasnya.
Selanjutnya, materi pengenalan dari Hanifa Mirzha. Ia menjelaskan isu pemetaan ini sangat penting untuk mitra CSOs karena berhubungan dengan bagaimana cara menggambarkan kondisi hutan kita. Salah satu alat yang bisa digunakan adalah Global Forest Watch (GFW). Alat ini bisa digunakan oleh siapapun untuk memantau hutan termasuk masyarakat umum. Aplikasi tersebut digunakan sebagai penyedia dan pembaharuan data terkait kondisi hutan, diteksi pembukaan dan titik panas. Secara teknis, aplikasi ini juga dapat menyediakan data, misalnya identifikasi pembukaan hutan dan lokasi yang memungkinkan akan terjadi pembukaan lahan. Data yang ditampilkan juga menunjukkan kondisi tutupan seperti pembukaan akibat kebakaran hutan ataupun penebangan liar. Data tersebut dapat diakses secara gratis dengan resolusi tinggi. Penggunaannya mudah tidak hanya dalam bentuk peta, melainkan bentuk tampilan grafik interaktif yang memudahkan untuk dipahami oleh pemula.
Di hari kedua, peserta secara langsung mempraktikkan penggunaan alat GIS. Sesi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang teknis mengolah data spasial untuk pemantauan hutan. Di awal, peserta menginstall aplikasi Quantum GIS (QGIS) dibantu oleh fasilitator dari KBCF. Fasilitator menyampaikan pengenalan singkat tentang QGIS yang mencakup pengertian, unsur geografis, pemodelan, data spasial serta penggunaan teknis lainnya. Selanjutnya peserta diarahkan untuk mengunduh peta lokasi dampingan masing-masing lembaga, serta menampilkan batas administrasinya.
Gema juga menambahkan untuk mendapatkan akurasi terbaik, maka diperlukan verifikasi dari beberapa sensor. Perlu diingat bahwa GFW ini digunakan untuk menentukan identifikasi awal bukan menentukan besaran deforestasinya, sehingga dilakukan sebagai pencegahan untuk mengetahui kemungkinan terjadi pembukaan lahan di suatu kawasan yang diidentifikasi. Tidak disarankan langsung untuk menghitung luasan dari aplikasi tersebut. Karena tujuan utama dari aplikasi ini yaitu cepat tanggapnya terjadi kehilangan tutupan pohon.
Di hari terakhir, Hanifa menyampaikan kesannya selama pelatihan. “Saya sangat senang menemui teman-teman CSOs Kaltim. Dari sekian banyak lokasi yang saya datangi, saya menemukan teman-teman Kaltim sangat antusias mengikuti pelatihan ini,” imbuhnya.
Walaupun sebenarnya untuk benar-benar menguasai pemetaan dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, namun setidaknya dengan adanya pelatihan ini telah memberikan dasar pemetaan menggunakan QGIS, Global Forest Watch serta aplikasi turunannya, Forest Watch. Semoga kedepannya, CSOs Kaltim bisa melaksanakan kembali kegiatan serupa mengingat banyak hal terkait GIS khususnya pemetaan yang belum sempat diajarkan karena terbatasnya waktu. Sehingga, diharapkan dengan adanya kegiatan pelatihan seperti ini dapat meningkatkan kapasitas CSOs guna mendukung keberhasilan kinerja di masing-masing unit kerja terutama dalam analisa pemetaan dan pemantauan hutan.




